Cari Blog Ini

Rabu, 03 Maret 2010

RESPON LIMA VARIETAS PADI TERHADAP DUA TARAF PEMUPUKAN UREA

Oleh

KHUSMATUL KHOTIMAH

A1F007019

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN PURWOKERTO 2010

RINGKASAN

Padi merupakan kebutuhan bagi bangsa ini mengingat semakin meningkatnya kebutuhan pangan beras sejalan dengan meningkatnya penduduk dan kualitas hidup masyarakat. Belum optimalnya produktivitas padi di lahan sawah, antara lain disebabkan oleh; rendahnya efisiensi pemupukan, belum efektifnya pengendalian hama penyakit, penggunaan benih kurang bermutu dan varietas yang dipilih kurang adaptif, kahat hara K dan unsur mikro, sifat fisik tanah tidak optimal dan pengendalian gulma kurang optimal. rekomendasi pemupukan atau dosis pupuk yang akan diberikan akan sangat ditentukan oleh karakter tanah yang berkaitan dengan status kesuburan tanah, kebutuhan hara tanaman (ditentukan oleh varietas dan produksi yang diharapkan) serta nisbah biaya kg pupuk/harga kg-1 produksi. Nitrogen adalah hara utama tanaman, merupakan komponen dari asam amino, asam nukleid, nudeotides, klorofil, enzim, dan hormon. Terdapat dua jenis padi yang dibudidayakan didunia, yaitu padi japonica dan padi indica. Dilihat dari cara budidaya, padi digolongkan menjadi dua yaitu padi gogo dan padi rawa. Padi gogo ditanam pada sawah tadah hujan, sedangkan padi rawa ditanam pada lahan yang selalu tergenang air. Fase pertumbuhan padi meliputi fase vegetative, generative dan pembentukan biji dan malai. Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui respon limavarietas padi, yaitu Cimelati, G136, Silugonggo, situpatenggang, dan mentik wangi pada taraf pemupukan Urea 4 gram. Praktikum kali ini dilaksanakan di Green House Pemuliaan Tanaaman Fakultas Pertanian Unsoed pada bulan November- desember 2009. Rancangan percobaan Split Plot dengan Main plot taraf pemberian pupuk Urea, dan Sub plot varitas padi. Data dianalisis menggunakan program IRISTAT dengan TUKEY’S TEST. Hasil praktikum menunjukan bahwa, pemberian pupuk Urea mempengaruhi jumlah anakan dan tinggi tanaman padi, kelima varietas yang digunakan respon terhadap pemupukan.

PENDAHULUAN

Upaya peningkatan produksi pertanian utamanya padi merupakan kebutuhan bagi bangsa ini mengingat semakin meningkatnya kebutuhan pangan beras sejalan dengan meningkatnya penduduk dan kualitas hidup masyarakat. Optimasi produktivitas padi di lahan sawah merupakan salah satu peluang peningkatan produksi gabah nasional. Hal ini sangat dimungkinkan bila dikaitkan dengan hasil padi pada agroekosistem ini masih beragam antar lokasi dan belum optimal. Rata-rata hasil 4,7 t/ha, sedangkan potensinya dapat mencapai 6 – 7 t/ha. Belum optimalnya produktivitas padi di lahan sawah, antara lain disebabkan oleh; rendahnya efisiensi pemupukan, belum efektifnya pengendalian hama penyakit, penggunaan benih kurang bermutu dan varietas yang dipilih kurang adaptif, kahat hara K dan unsur mikro, sifat fisik tanah tidak optimal dan pengendalian gulma kurang optimal.

Pemupukan pada dasarnya adalah merupakan upaya pemberian unsur hara kepada tanaman yang tidak dapat disediakan oleh tanah. Dengan demikian, rekomendasi pemupukan atau dosis pupuk yang akan diberikan akan sangat ditentukan oleh karakter tanah yang berkaitan dengan status kesuburan tanah, kebutuhan hara tanaman (ditentukan oleh varietas dan produksi yang diharapkan) serta nisbah biaya kg pupuk/harga kg-1 produksi. Nitrogen adalah hara utama tanaman, merupakan komponen dari asam amino, asam nukleid, nudeotides, klorofil, enzim, dan hormon. N mendorong per tumbuhan tanaman yang cepat dan memperbaiki tingkat hasil dan kualitas gabah melalui peningkatan jumlah anakan, pengembangan luas daun, pembentukan gabah, pengisian gabah, dan sintesis protein. N sangat mobil di dalam tanaman dan tanah.

Rekomendasi pemupukan adalah suatu rancangan yang meliputi jenis pupuk, dosis pupuk, cara pemupukan dan waktu pemupukan untuk suatu tanaman yang diharapkan dari suatu rekomendasi pemupukan adalah tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu. Metode pendekatan bisa berupa metode uji tanah, analisis tanaman maupun dengan metode pemupukan.

Efisiensi pemupukan N dapat ditingkatkan dengan memonitor warna daun pada selang waktu 7-10 hari dengan BWD dan N diberikan sesuai kebutuhan tanaman (lihat BWD). Alternatif aplikasi pemupukan N dengan pendekatan waktu pemberian disajikan berikut ini untuk kasus di mana petani tidak mungkin melakukan monitoring sawahnya dalam interval 7-10 hari.

TINJAUAN PUSTAKA

Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

A. Botani Tanaman Padi

Kingdom : Plantae

Divisio : Tracheopyta

Subdivisio : Agiospermae

Class : Monocotyledoneae

Ordo : Glumiflorae

Famili : Poaceae ( Graminae )

Genus : Oryza

Spesies : Oryza sativa

Padi termasuk tanaman semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium. Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari ( anther ) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol.

Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan.

B. Sepesies dan Penggolongan Tanaman Padi

Terdapat dua jenis padi yang dibudidayakan didunia, yaitu padi japonica dan padi indica. Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, paleanya memiliki "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung panjang. Padi japonica biasanya agak lengket nasinya. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, paleanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan biji cenderung oval. Selain kedua varietas ini, dikenal pula sekelompok padi yang tergolong varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua varietas utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Dilihat dari cara budidaya, padi digolongkan menjadi dua yaitu padi gogo dan padi rawa. Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawahPadi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

C. Fase Pertumbuhan dan Pemasakaan Tanaman Padi

Secara umum pemasakan bulir pada tanaman padi terbagi atas empat stadia, yaitu :

  1. Stadia masak susu ( 8-10 hari setelah berbunga merata )
  2. Stadia masak kuning ( 7 hari setelah masak susu )
  3. Stadia masak penuh ( 7 hari setelah masak kuning )
  4. Stadia masak mati ( 6 hari setelah masak penuh )

Secara umum ada tiga stadia proses pertumbuhan tanaman padi dari awal penyemaian hingga pemanenan :

  1. Stadia vegetatif ; dari perkecambahan sampai terbentuknya bulir. Pada varietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya sekitar 55 hari, sedangkan pada varietas padi berumur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari.
  2. Stadia reproduktif ; dari terbentuknya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari, dan pada varietas 151 berumur panjang sekitar 35 hari juga.
  3. Stadia pembentukan gabah atau biji ; dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia sekitar 30 hari, baik untuk varietas padi berumur pendek maupun berumur panjang.

D. Syarat Tumbuh Tanaman Padi

Padi dapat tumbuh dalam iklim yang beragam, tumbuh di daerah tropis dan subtropis pada 45o LU dan 45o LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Rata–rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun.. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0 – 650 m dpl dengan temperatur 22 – 27 oC sedangkan didataran tinggi 650-1500 mdpl dengan temperatur 19 – 23 oC.

Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm dibawah permukaan tanah. Menghendaki tanah Lumpur yang subur dengan ketebalan 18 – 22 cm. Keasaman tanah antara pH 4,0 – 7,0. Pada padi sawah,

penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1 – 8,2 tidak merusak tanaman padi tetapi akan mengurangi hasil produksi Tanah sawah yang mempunyai persentase fraksi pasir dalam jumlah besar, kurang baik untuk tanaman padi, sebab tekstur ini mudah meloloskan air ( Lopulisa, 2005 ).

E. Budidaya Padi

Syarat benih yang dipakai harus, bermutu tinggi (daya kecambah lebih dari 90). tidak tercampur dengan jenis padi atau biji, tanaman lain dan jumlah benih 30-45 kg per hektar. Benih disemai menggunakan persemaian basah. Pengolahan tanah dilakukan dua tahap. Setelah pengolahan tahap pertama, tanah digenangi, agar zat beracun terpisah dari tanah. Tinggi air genangan berkisar antara 5-10 cm.

Pengolahan tanah tahap kedua dilakukan dua minggu setelah pengolahan pertama. Alat untuk mengolah tanah dapat menggunakan; cangkul, traktor, dan bajak yang ditarik sapi/kerbau. Penanaman dilakukan dengan teknik “ Tandur Jajar “. Jarak tanam 25 cm x 25 cm. Jumlah bibit: 3 - 4 batang setiap rumpun. Musim tanam pertama, penanaman dilakukan pertengahan Oktober sampai awal November. Musim tanam kedua, penanaman dilakukan pertengahan Maret sampai awal April.

Penyiangan dilakukan dua kali yaitu; penyiangan pertama umur 3 minggu setelah tanam, penyiangan kedua umur 6 minggu setelah tanam. Apabila ada tanaman yang mati, diadakan penyulaman (umur 1-2 minggu) dengan cara; menggunakan bibit yang masih tersedia, menyapih tanaman yang sudah tumbuh ( pindah tanam ). Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk Urea, SP36, dan KCl. Dosis Urea 150 kg/ha 1/3 diberikan pada saat tanam, 1/3 takaran pada 4 minggu setelah tanamdan 1/3 takaran pada 7 minggu setelah tanam. SP36 = 135 kg/ha dan KCl = 100 kg/ha diberikan seluruhnya pada saat tanam.

METODE


Tidak ada komentar:

Posting Komentar